Langsung ke konten utama

Resensi Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

        




         
1.  Judul                  : Sang Pemimpi
          2. Penulis               : Andrea Hirata
          3. Penerbit             : Bentang Pustaka
          4. Tebal                   : 295 halaman
    5. Tahun Terbit    : Cetakan I, Juli 200


.       A.   Nama – nama tokoh  :
            


·       1. Arai : Pemberani, penuh perjuangan,     pantang menyerah, selalu semangat,         selalu optimis, memiliki jiwa solidaritas   yang tinggi.
·    2. Ikal : Agak pemalu, penuh semangat, penuh perjuangan, selalu optimis, memiliki jiwa solidaritas yang tinggi.
·    3. Jimbron : Pemalu, setia kawan, reka berkorban, baik hati, berjiwa semangat dan pantang menyerah.
·    4.   Ibu : Perhatian, sabar, selalu ikhlas melakukan sesuatu.
·   5.  Ayah : Gigih, pekerja keras, tidak mudah menyerah, selalu mengutamakan keajiban, ikhlas.
·    6.   Pak Mustar : Bijaksana, tegas.
·    7.  Pak Balia : Karismatik, Penyabar, baik, bijaksana, pintar.
·     8.  Laksmi : Pemalu, pintar.
·     9.   Nurmala : Baik hati, jujur.
   
          B. Tempat Kejadian 
                       Tempat kejadian Pulau Magai Balitong, Los Pasar dan dermaga pelabuhan, di gedung bioskop, di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor, dan Pulau Kalimantan.
          C. Waktu  
                   Waktu yang digunakan pagi, siang, sore, dan malam. Latar nuansanya lebih berbau melayu dan gejolak remaja yang diselimuti impian-impian. 
Novel ini sangat bagus untuk dibaca karena memberikan suatu pesan sekaligus peran dan ajaran moral kepada pembaca. Alur cerita dan gaya bahasa yang digunakan dikemas begitu apik dari awal hingga akhir sehingga pembaca tidak bosan untuk membaca sampai habis cerita yang disajikan di novel ini. Disamping itu novel ini sangat memberikan contoh pola pikir setiap manusia. Membangun semangat dan rasa optimis untuk meraih semua cita-cita pembaca.


       D.     Ringkas cerita


Ikal, Arai, dan Jimbron setelah SMP mereka melanjutkan sekolah SMA, dan berawal dari masa SMA inilah perjuangan keyakinan tentang mimpi itu terbentuk dari seorang guru sastra bernama Pak Balia yaitu seorang guru yang penuh inspiratif, yang setiap saat tanpa lelah mengajari mereka memberikan kata – kata motivasi perjuangan dengan penuh semangatdan guru yang mengajari mereka bercita – cita yang tinggi, belajar dari alam untuk meresapi kehidupan, mereguk ilmu sebanyak – banyaknya, mimpi mengelilingi eksotisnya Afrika, megahnya Eropa, dan berhenti di almamater ilmu Universitas Sorebonne Perancis. Mereka rela menjadi kuli ngambat, bekerja dari jam dua dini hari dan paginya sekolah. Mereka menabung dari waktu kewaktu untuk mewujudkan mimpinya kuliah di Paris, jika dinalar tabungan itu tak akan pernah mencukupi kebutuhan mereka untuk biaya perjalanan ke Paris. Namun hal itu tak pernah menyurutkan langkah mereka, bagi mereka selama mereka masih bisa berusaha, mereka akan mewujudkan mimpi itu. Setelah lulus SMA Ikal dan Arai merantau ke pulau Jawa tepatnya di daerah Bogor, sedangkan Jimbron lebih memilih beternak kuda dan bersama Lasmi gadis yang dia cintai. Jimbron menghadiahkan dua sahabatnya dua buah celengan kuda, dengan itu Jimbron percaya walaupun dia tidak pernah ke Paris namun hatinya akan sampai disana bersama Arai dan Ikal jika mereka sampai di Paris. Perjuangan di Bogor ternyata tak mudah dan seperti apa yang mereka harapkan, mereka bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan. Pada akhirnya nasib menempatkan Ikal sebagai tukang pos, sementara Arai pergi merantau karena tak kunjung mendapat kerja dan menghilang tanpa kabar, hal itu membuat Ikal benar benar kehilangan. Pada tahun berikutnya Ikal kuliah S1 di UI jurusan ekonomi dan setelah lulus Ikal mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Sorebonne dengan menyingkirkan ribuan pesaing, akhirnya Ikal sampai pada perebutan 15 besar. Sementara Arai pergi ke Kalimantan, ternyata Arai melanjutkan kuliah sambil bekerja. Arai kuliah di Fakultas Mulawarman jurusan biologi dan ketika tahu ada pengumuman beasiswa ke Paris, dia tidak mau melewatkan kesempatan itu dan dia pun sama seperti Ikal, sampai pada perebutan tempat 15 besar. Ketika wawancara, Profesor yang mengujinya pun kagum pada riset yang Arai buat karena bisa menghasilkan teori baru. Akhirnya keduanya pun dipertemukan kembali dan dapat mewujudkan mimpinya bisa menginjakkan kaki mereka di tanah Perancis. 

Komentar